Yayasan multi-unit
Bagaimana sekolah tetap mandiri sementara yayasan memperoleh gambaran lintas unit.
Ikuti ceritanyaOrang tua mendaftar. Siswa masuk ke kelas. Guru mengajar. Kehadiran dicatat. Tagihan berjalan. Buku dipinjam. Aset digunakan. Hasil belajar dianalisis. Pimpinan melihat gambaran keseluruhan. ERPAS dirancang agar rangkaian itu tidak terpecah menjadi banyak proses yang berdiri sendiri.

TK, SD, SMP, dan SMA tetap menjalankan pekerjaan masing-masing. Yang berubah adalah bagaimana informasi bergerak: data yang sudah dibuat tidak perlu terus dibangun kembali ketika proses berikutnya membutuhkan.
Pendaftaran, verifikasi, penerimaan, dan pembentukan data siswa menjadi satu perjalanan.
Kelas, jadwal, guru, siswa, program akademik, dan presensi mulai membentuk kegiatan sekolah sehari-hari.
Keuangan, portal, perpustakaan, dan inventaris melayani siswa, guru, dan unit berdasarkan informasi yang sudah tersedia.
Guru menggunakan ruang kerjanya, siswa mengakses LMS, dan asesmen memberi gambaran hasil serta kompetensi.
Kepala sekolah dan yayasan tidak harus memulai dari kumpulan file baru setiap kali membutuhkan gambaran.
Setiap halaman berikut berbicara tentang kejadian yang nyata di sekolah Anda, bukan tentang menu aplikasi.
Bagaimana sekolah tetap mandiri sementara yayasan memperoleh gambaran lintas unit.
Ikuti ceritanyaApa yang terjadi setelah orang tua mengisi formulir dan siswa diterima.
Ikuti ceritanyaBagaimana satu data siswa dipakai kembali oleh berbagai layanan sekolah.
Ikuti ceritanyaBagaimana tahun ajaran, kelas, jadwal, dan penilaian menjadi tulang punggung kegiatan belajar.
Ikuti ceritanyaBagaimana guru dan staf ditempatkan, dikelola, dan dilihat sesuai unitnya.
Ikuti ceritanyaBagaimana kehadiran siswa dan pegawai menjadi informasi operasional, bukan sekadar daftar hadir.
Ikuti ceritanyaBagaimana tagihan, pembayaran, dan pelaporan dapat mengikuti siswa dan unit yang tepat.
Ikuti ceritanyaBagaimana guru memperoleh satu tempat untuk pekerjaan pembelajaran yang relevan.
Ikuti ceritanyaBagaimana siswa masuk ke materi dan aktivitas belajar tanpa kehilangan konteks sekolahnya.
Ikuti ceritanyaBagaimana nilai berubah menjadi informasi kompetensi dan tindak lanjut belajar.
Ikuti ceritanyaBagaimana keluarga memperoleh informasi yang memang relevan bagi mereka.
Ikuti ceritanyaBagaimana koleksi dan peminjaman menjadi bagian layanan sekolah yang tertib.
Ikuti ceritanyaBagaimana aset sekolah diketahui lokasi, kondisi, penggunaan, dan kebutuhannya.
Ikuti ceritanyaBagaimana seluruh perjalanan tadi memberi kepala sekolah dan yayasan gambaran yang lebih siap digunakan.
Ikuti ceritanya